Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Melihat Sekilas

Padamu ku sematkan rasa. padaku kau hancurkan semua. Hilang tak berganti, pergi tak kembali. Entah masih ada atau tidak jalan pulang untukku. aku lelah berorientasi diantara lingkungan baru dimana tidak ada kau disitu, aku lelah berpura tenang tiap postinganmu tentangnya tersebar di Linimasa. Aku masih cemburu akan hal itu, meski dapat kau katakan bahwa aku tidak memiliki hak. Tak ada yang baik-baik, semuanya masih sama. Ya, orang yang senang meleburkan diri dan merelakan untuk terus kau hujam dengan rasa sakit yang teramat perih adalah aku yang kau abaikan meski selalu kau butuhkan. Jika semula tak berniat untuk saling mengikat setidaknya jangan mempermainkan rasa. Kita tak pernah menjadi apa-apa, dan aku bukan siapa-siapa. Tapi, tidakkah kau ingat bahwa pundak ini yang selalu kau rebah kala bilur menghampirimu, raga ini yang selalu hadir sebagai pelipur lara kala dunia memusuhimu. Jika demikian, lantas sudah layakkah kau menghukumku untuk semua ini? Aku yang selalu ada, namun ...

Melankolia

Aku pernah memintamu untuk menetap, setengah mati menahan meski kau menghujam dengan tak menghirau Aku pernah memintamu untuk mengerti, sepenuh hati memberikan penjelasan meski kau tak menoleh Aku pernah memintamu peduli, bersungguh memohon meski terus kau abaikan Untukmu, aku pernah. Aku pernah melakukan segala cara agar kau tetap ada dan utuh untukku, hingga merasa tak cukup daya untuk melakukan apa-apa lagi. Akhir-akhir ini aku malas untuk pulang, kampung halaman seakan tak lagi ramah untukku, jarak dan kondisi kuciptakan agar aku mulai terbiasa menjauh dari segala hal tentangmu. jangan lagi mengikutiku, bekerja samalah sejenak untuk kebaikan kita masing-masing. Pada kenyataannya arah kita tak sama, kau berjalan ke sisi barat, dan aku berjalan ke sisi timur. Jangan pula kau menyapaku, sapaanmu memiliki energi yang dapat meluluh lantakan pendirianku, cukup seperti sekarang. Meskipun aku benci untuk mengatakannya sebagai jalan terbaik, tapi cukup adil bagi kita. A...

Ruang Kosong

Terdiam diantara hampa dan kepenatan, merebah dikala luka namun eggan disembuhkan. Dari sekian banyak gemintang yang bertebaran diangkasa ada satu yang paling bersinar dan ku ibaratkan itu adalah engkau sebagai sebuah pengharapanku. Beberapa hal tampak sederhana, tapi sering kali dibuat rumit. Aku baik-baik saja dengan atau tanpamu, bahkan sebelum mengenalmu aku adalah seorang periang yang enerjik dengan kesenangan yang buram meski sebagian orang menganggapnya sebagai lembah perusak. Lalu berproses denganmu mengubah aku menjadi orang yang sedikit pasif, lamban dan menjadi pribadi yang lebih tenang, jauh bertentangan dengan karakter aku yang sebelumnya. Kini kisah kita sudah seperti memasuki fase jeda, atau bahkan berakhir?, tanpa ada yang tersisa melainkan aku yang telah menjadi abu, dan kau berlalu. Tahun berlalu dan masih menunggu orang sama bukanlah waktu yang singkat untuk dikatakan berpasrah diri, berdiri sendiri disuatu ruang kosong, tak berarah, dan diam. Tak melirik ...

Sudut senyap

Kau mungkin sudah melupa, tapi aku tidak Kau mungkin menganggapnya sirna, tapi bagiku ini semua adalah tunda Kisah kita terlalu singkat, namun kurasa cukup indah Terasa lamban bagiku untuk bergerak setelah beranjak jauh darimu. Malam-malamku masih sering kau usik dengan lirih yang selalu terngiang, semacam repitisi yang senang kulakukan untuk menjadikanmu bait aksara. Ada senyap, tenang, dan sepi yang selalu setia menemaniku mengenangmu, semacam zat adiktif yang sangat kubutuhkan. Hei, kemari. Ayo kita lanjutkan bagian dari kisah kita yang belum usai, akan ku ajak kau kesebuah dimensi yang akan kau senangi, dimana tidak akan ada sedih dan air mata yang menghampirimu, akan ku ajari kau cara tertawa, cara percaya, cara berproses yang selalu membuatmu gembira. Hanya kau dan aku. Aku takkan kemana, masih disini di tempat yang ku sebut sebagai peristirahatan, jika kau merasa mulai lelah dengan langkahmu, maka temui aku disini, di tempat aku melepasmu dulu. Aku akan memapa...

Renjana

Kepada, seseorang yang fotonya masih terpajang disudut dinding kamar kost ku, ingin rasanya kubuang, atau bahkan kumusnahkan, segala tentangmu ingin kusingkirkan. hahaha, tapi sialnya aku tak bisa. Mungkin ini adalah untuk kesekian kalinya aku tuliskan surat fiksi yang ku tujukan untukmu, entah kau membacanya atau tidak aku tak peduli. tak mengapa, ia memang tercipta seperti itu, aku senang melakukannya berulang-ulang tanpa harus kau mengetahuinya. Tak bermaksud menyinggungmu atau apapun, tapi aku hanya ingin bercerita. Aku tak ingin menyebut namamu dalam setiap tulisanku, maupun dalam setiap larik-larik puisi yang termaktub dikala hening, bagiku tak perlu nama karena semuanya jelas tertuju untukmu. Mungkin terbersit sedikit pertanyaan dalam benakmu kenapa aku masih terus sendiri untuk waktu selama ini, sama halnya denganku yang masih saja terus memperhatikanmu  berganti pasang. Aku heran denganmu. apa yang kau cari?, Yang ku tau sekarang kau sudah lagi berganti pendampi...

Stagnasi nelangsa

Ada beberapa hal yang menuntunku pada sadar. Ya, mengerti tentang sebuah rasa yang tak semesti dilanjutkan, sikapmu terkadang begitu kejam,begitu abstrak yang juga samar, dikejauhan kau adalah lirih bagiku yang setiap saat selalu hadir dikala hening, dan kali ini kau benar-benar memukulku untuk mundur, tapi sekali lagi hatiku keras kepala. Begitu mahal rasa kepedulian yang kau miliki atau begitu  miskin aku untuk menebusnya. Aku tak mengerti, bahkan waktu tahunan seakan tak mampu membawaku pada sebuah pemahaman tentangmu. Kita adalah dua orang asing meski pada kenyataan saling berhubung; Aku lelah untukmu tapi entah mengapa langkah selalu saja berhasil membawaku padamu, enggan berhenti meski kau terus berlari menjauh. Aku adalah rumah yang tak ingin kau tempati, bahkan terkesan ingin kau hancurkan. Kau dapat menghancurkan dalam sekejap, pun demikian dalam membenahi. Mungkin aku tak akan pernah hadir pada bagian menyenagkan dalam episode hidupmu melainkan hanya pada bagian nela...

Tentangmu #1

Di suatu senja kembali mengingatkanku tentang sebuah perjumpaan kita yang terkesan sederhana, aku yang saat itu terlambat masuk kesalah satu ruangan kelas dimana saat itu mengharuskan ku untuk duduk canggung tak berbaris tepat disebelahmu yang juga duduk bersebelahan dengan teman gendutku. Tak banyak yang kita bicarakan, aku hanya menanyakan waktu untuk sekedar berbasa basi tanpa menyulurkan tangan tanda sebuah perkenalan.  Kemudian, pertemanan kita terjalin secara alami seperti layaknya pertemanan pada umumnya, hari demi hari kita lalui dengan biasa, tak ada yang aneh, kita tak saling memiliki rasa yang memang seharusnya tak pernah terjadi. Sampai pada suatu ketika untuk jarak waktu yang cukup lama rasa itu muncul, hal yang berada diluar nalarku, yang tak pernah aku bayangkan untuk memilikinya, entah kapan hal itu terjadi aku bahkan tak dapat mengingat dengan pasti kapan pertama kali aku menyukaimu yang kutahu hingga saat ini aku masih menyukaimu dan belum punah.  Tahuka...

ASA

Dalam langkah meraup asa memulai suatu awalan baru, gemerlap gemintang yang redup perlahan sirna berganti fajar yang menyingsing heningnya malam dengan mentari cerah penuntun arah tempat aku pulang. Diam, senyap, sunyi, dan gelap mulai terabaikan saat sepercik cahaya mulai menyongsong dipenghujung lorong kehampaan, entah apa yang terdapat di ujung sana, aku bahkan tidak dapat megetahuinya tanpa langsung menghampiri cahaya tersebut. Melihat keindahannya yang hanya dapat dirasakan oleh jarak namun sukar untuk diraih. Aku masih terperangah ditempat yang sama tak bisa bergerak manakala cahaya itu mulai terlihat dan hanya bisa sesekali meronta berusaha gapai dengan waktu yang tepat. Bilurku pun makin terasa kala imingan surga yang kau beri hanya berujung untuk duka, namun juangku masih terus berlanjut meskipun rindu terhalang sekat harap yang patah. Disudut senja kau kantongi mentari untuk dirimu sendiri, kau takut berjalan didalam gelap padahal kau tau aku tak akan melepaskan gengga...

LANGKAH SENJA

Kenangan dikala itu hanyut terbuai bersama kisah yang tak bisa dinalar, lembayung senjapun seolah enggan mengakhiri hari panjang dimana seorang insan terus asik bermain bersama sang mentari tanpa pernah berpikir akan berakhir. Semuanya berjalan secara alami mengikuti semesta yang terus bergerak. Entah aku yang terlalu berlebihan atau kau yang kurang perasa dan tak dapat memahami arti makna dari sebuah hubungan, yang mana menjadi sendu tak berkesudahan untukku sebagai seseorang yang tak pernah berpikir untuk beranjak darimu. Kau sempat membuatku percaya bahwa malaikat tak bersayap itu nyata adanya tatkala kau berhasil menghidupkan kembali jiwa seseorang yang telah mati dan mewarnainya dengan manis canda tawamu, namun seiring berjalannya waktu kau pula lah yang membunuh jiwa itu dan mengakhiri sebuah kisah dengan hanya meninggalkan lirih yang terus terngiang disepancaran telinga dari kejauhan. Semestaku terdiam saat kita berakhir, aku seolah berdiri diatas gamang saat semuanya usa...

SUARA MALAM

Aku ingin berbicara banyak denganmu, bercerita tentang bagaimana aku menghabiskan waktuku selama ini dengan mencintaimu tanpa bersamamu. Tapi entahlah, seketika rasa itu datang dan pada saat itu pula aku harus membunuhnya setiap saat. Aku ingin berbagi banyak hal denganmu namun pada kenyataannya aku tak pernah bisa menyentuh palung hatimu, dan satu hal yang baru ku sadari kau tak pernah ada untukku bahkan sekeras apapun aku berusaha untukmu tak pernah terbesit dihatimu untuk mencoba peduli. Kau begitu asik dengan duniamu hingga luput untuk menyadari arti dari mencintai dan dicintai. Kadang aku cuma berpikir mengapa tuhan menciptakan rasa ku untukmu yang bahkan sampai sekarang aku belum mengetahui maknanya, apa arti dari semuanya seolah aku tak bisa membuka mataku untuk melihat dunia luar melainkan hanya terpatri padamu. Kau layaknya sebuah ilusi yang kuciptakan yang pada kenyataannya tidak pernah bisa ku raih. Kau bisa datang kepadaku kapanpun kau suka sementara aku hanya bisa d...

12 MEI

Seiring waktu berjalan, banyak hal yang sudah terlewati dan berubah. silih bergantinya orang yang orang yang mengisi kehidupanmu hingga suatu ketetapan yang telah kupilih dengan menuggumu. Aneh rasanya saat dulu kita hanya berteman biasa sampai pada suatu ketika rasa yang tak pernah ku inginkan tumbuh yang membuat semuanya berubah  dan agak menjadi canggung, "aku mencintaimu" dan aku yakin itu tidak akan berubah. Aku menikmati prosesnya bahkan disaat kau tak pernah berpikir  untuk mencobaku, saat kau melewatkanku, saat kau berpikir bahwa segala tentangku telah usai. Dan sekian lama telah berlalu aku masih menjadi orang yang sama untukmu. Sebuah rasa yang tidak bisa ku bendung, bukan tentang kebahagiaan diluar sana yang tak bisa ku temui tanpamu melainkan keingin dari lubuk hatiku yang paling dalam untuk bisa bahagia bersamamu. Tapi tenang aku tidak akan lebih jauh lagi, aku tidak mungkin mengganggu kehidupanmu saat ini. Aku sudah selesai dengan caraku yang lama, kini kau...