Dalam langkah meraup asa memulai suatu awalan baru, gemerlap gemintang yang redup perlahan sirna berganti fajar yang menyingsing heningnya malam dengan mentari cerah penuntun arah tempat aku pulang.
Diam, senyap, sunyi, dan gelap mulai terabaikan saat sepercik cahaya mulai menyongsong dipenghujung lorong kehampaan, entah apa yang terdapat di ujung sana, aku bahkan tidak dapat megetahuinya tanpa langsung menghampiri cahaya tersebut. Melihat keindahannya yang hanya dapat dirasakan oleh jarak namun sukar untuk diraih.
Aku masih terperangah ditempat yang sama tak bisa bergerak manakala cahaya itu mulai terlihat dan hanya bisa sesekali meronta berusaha gapai dengan waktu yang tepat. Bilurku pun makin terasa kala imingan surga yang kau beri hanya berujung untuk duka, namun juangku masih terus berlanjut meskipun rindu terhalang sekat harap yang patah.
Disudut senja kau kantongi mentari untuk dirimu sendiri, kau takut berjalan didalam gelap padahal kau tau aku tak akan melepaskan genggamanmu meskipun hanya sesaat. Seperti angin topan yang sekejap membawaku terbang tinggi, terlalu tinggi, seketika itu pula kau menjatuhkanku.
Kini fajar telah terbit dan aku mulai mencoba sekali lagi meyakinkan diri menentukan arah tempat aku pulang, diam sejenak dan tersenyum simpul saat pintu itu telah kau tutup rapat dan melupakan.
Seandainya aku mempunyai ingatan sepertimu, seandainya aku memiliki respon sepertimu, seandainya harap itu tak pernah ada mungkin semua bisa berakhir tanpa ada lirih dan luka.
Komentar
Posting Komentar