Langsung ke konten utama

ASA

Dalam langkah meraup asa memulai suatu awalan baru, gemerlap gemintang yang redup perlahan sirna berganti fajar yang menyingsing heningnya malam dengan mentari cerah penuntun arah tempat aku pulang.
Diam, senyap, sunyi, dan gelap mulai terabaikan saat sepercik cahaya mulai menyongsong dipenghujung lorong kehampaan, entah apa yang terdapat di ujung sana, aku bahkan tidak dapat megetahuinya tanpa langsung menghampiri cahaya tersebut. Melihat keindahannya yang hanya dapat dirasakan oleh jarak namun sukar untuk diraih.
Aku masih terperangah ditempat yang sama tak bisa bergerak manakala cahaya itu mulai terlihat dan hanya bisa sesekali meronta berusaha gapai dengan waktu yang tepat. Bilurku pun makin terasa kala imingan surga yang kau beri hanya berujung untuk duka, namun juangku masih terus berlanjut meskipun rindu terhalang sekat harap yang patah.
Disudut senja kau kantongi mentari untuk dirimu sendiri, kau takut berjalan didalam gelap padahal kau tau aku tak akan melepaskan genggamanmu meskipun hanya sesaat. Seperti angin topan yang sekejap membawaku terbang tinggi, terlalu tinggi, seketika itu pula kau menjatuhkanku.
Kini fajar telah terbit dan aku mulai mencoba sekali lagi meyakinkan diri menentukan arah tempat aku pulang, diam sejenak dan tersenyum simpul saat pintu itu telah kau tutup rapat dan melupakan.
Seandainya aku mempunyai ingatan sepertimu, seandainya aku memiliki respon sepertimu, seandainya  harap itu tak pernah ada mungkin semua bisa berakhir tanpa ada lirih dan luka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sama Yang Berbeda

Sebuah asumsi dapat membuyarkan harapan, entah aku yang terlampau berlebihan, seorang pengecut yang begitu sulit memulai apapun. Bukankah kita memulai semuanya dengan begitu sederhana?, Ya, akupun sama. Percuma berkeluh-kesah dengan keadaan, toh kita memiliki pemikiran dan perasaan yang begitu tak terduga. Tuhan memiliki rencana atas pertemuan kita, mungkin salah satunya agar hidupku bergerak tak lagi terpaku pada masa lalu. Terlalu berlebihan rasanya bila aku mengharap pertemuan ini dapat berlangsung sepanjang kehidupan, karena kita sama yang berbeda. Aku adalah apa yang kau tidak, dan kau adalah sebaliknya. hanya latar belakang yang memiliki sedikit kesamaan. Pertemuan singkat denganmu adalah anugerah, tak ada yang perlu ku sesali, aku hanya meminta izin denganmu untuk membawa sedikit kenangan yang terukir dalam cerita singkat ini, lalu kembali berjalan entah kemana sejauh kaki mampu melangkah. Jangan khawatir, di kejauhan aku akan selalu memperhatikan tiap langkahmu, memastika...

Sudut senyap

Kau mungkin sudah melupa, tapi aku tidak Kau mungkin menganggapnya sirna, tapi bagiku ini semua adalah tunda Kisah kita terlalu singkat, namun kurasa cukup indah Terasa lamban bagiku untuk bergerak setelah beranjak jauh darimu. Malam-malamku masih sering kau usik dengan lirih yang selalu terngiang, semacam repitisi yang senang kulakukan untuk menjadikanmu bait aksara. Ada senyap, tenang, dan sepi yang selalu setia menemaniku mengenangmu, semacam zat adiktif yang sangat kubutuhkan. Hei, kemari. Ayo kita lanjutkan bagian dari kisah kita yang belum usai, akan ku ajak kau kesebuah dimensi yang akan kau senangi, dimana tidak akan ada sedih dan air mata yang menghampirimu, akan ku ajari kau cara tertawa, cara percaya, cara berproses yang selalu membuatmu gembira. Hanya kau dan aku. Aku takkan kemana, masih disini di tempat yang ku sebut sebagai peristirahatan, jika kau merasa mulai lelah dengan langkahmu, maka temui aku disini, di tempat aku melepasmu dulu. Aku akan memapa...

Stagnasi nelangsa

Ada beberapa hal yang menuntunku pada sadar. Ya, mengerti tentang sebuah rasa yang tak semesti dilanjutkan, sikapmu terkadang begitu kejam,begitu abstrak yang juga samar, dikejauhan kau adalah lirih bagiku yang setiap saat selalu hadir dikala hening, dan kali ini kau benar-benar memukulku untuk mundur, tapi sekali lagi hatiku keras kepala. Begitu mahal rasa kepedulian yang kau miliki atau begitu  miskin aku untuk menebusnya. Aku tak mengerti, bahkan waktu tahunan seakan tak mampu membawaku pada sebuah pemahaman tentangmu. Kita adalah dua orang asing meski pada kenyataan saling berhubung; Aku lelah untukmu tapi entah mengapa langkah selalu saja berhasil membawaku padamu, enggan berhenti meski kau terus berlari menjauh. Aku adalah rumah yang tak ingin kau tempati, bahkan terkesan ingin kau hancurkan. Kau dapat menghancurkan dalam sekejap, pun demikian dalam membenahi. Mungkin aku tak akan pernah hadir pada bagian menyenagkan dalam episode hidupmu melainkan hanya pada bagian nela...