Kau mungkin sudah melupa, tapi aku tidak
Kau mungkin menganggapnya sirna, tapi bagiku ini semua adalah tunda
Kisah kita terlalu singkat, namun kurasa cukup indah
Terasa lamban bagiku untuk bergerak setelah beranjak jauh darimu.
Malam-malamku masih sering kau usik dengan lirih yang selalu terngiang, semacam repitisi yang senang kulakukan untuk menjadikanmu bait aksara. Ada senyap, tenang, dan sepi yang selalu setia menemaniku mengenangmu, semacam zat adiktif yang sangat kubutuhkan.
Hei, kemari. Ayo kita lanjutkan bagian dari kisah kita yang belum usai, akan ku ajak kau kesebuah dimensi yang akan kau senangi, dimana tidak akan ada sedih dan air mata yang menghampirimu, akan ku ajari kau cara tertawa, cara percaya, cara berproses yang selalu membuatmu gembira. Hanya kau dan aku.
Aku takkan kemana, masih disini di tempat yang ku sebut sebagai peristirahatan, jika kau merasa mulai lelah dengan langkahmu, maka temui aku disini, di tempat aku melepasmu dulu. Aku akan memapahmu, aku akan menjadi kompasmu ketika kau hilang arah, aku akan selalu ada disetiap kau terluka. tapi, beri aku celah, agar aku bisa membuatmu merasa yakin.
Sudah lama rasanya kita tak bertegur sapa, aku rindu obrolan kecil denganmu, tingkah lakumu yang sering membuatku tertawa, segala tentangmu. Tapi terakhir kali kita berpapasan kau terasa begitu angkuh dengan anggunmu, haha, iya iya.., aku tak bermaksud menyinggungmu lagi dan lagi :)
Sebenarnya aku ingin berbicara denganmu sekali lagi, menyampaikan apa yang sedang ku rasa. Tapi, bagaimana mungkin bisa ku katakan jika yang ku tau kau tak pernah merasa nyaman setiap berada di dekatku.
Rasaku untukmu seperti tidak ada batas, meski kau tak membalas. Tapi begitulah seharusnya, aku sudah cukup senang sempat kau izinkan menjadi lilin yang membarak diri untuk memberimu terang, meski pada akhirnya kau sudah menemukan cahaya yang jauh lebih terang.
Rasa, karsa kali ini kembali berhasil membawa pikiranku menemukanmu. Sial, menyebalkan, sekarang lagi, entah berapa kali aku harus memaki diri yang terlalu egois untuk mematahkan realita.
"Tak lagi saling sapa dan berpapasan, ada jarak yang lebih dari sekedar ruang dan waktu menjadi pemisah, namun masih ada engkau dalam setiap doa"
Komentar
Posting Komentar