Aku pernah memintamu untuk menetap, setengah mati menahan meski kau menghujam dengan tak menghirau
Aku pernah memintamu untuk mengerti, sepenuh hati memberikan penjelasan meski kau tak menoleh
Aku pernah memintamu peduli, bersungguh memohon meski terus kau abaikan
Untukmu, aku pernah.
Aku pernah melakukan segala cara agar kau tetap ada dan utuh untukku, hingga merasa tak cukup daya untuk melakukan apa-apa lagi.
Akhir-akhir ini aku malas untuk pulang, kampung halaman seakan tak lagi ramah untukku, jarak dan kondisi kuciptakan agar aku mulai terbiasa menjauh dari segala hal tentangmu.
jangan lagi mengikutiku, bekerja samalah sejenak untuk kebaikan kita masing-masing. Pada kenyataannya arah kita tak sama, kau berjalan ke sisi barat, dan aku berjalan ke sisi timur. Jangan pula kau menyapaku, sapaanmu memiliki energi yang dapat meluluh lantakan pendirianku, cukup seperti sekarang. Meskipun aku benci untuk mengatakannya sebagai jalan terbaik, tapi cukup adil bagi kita.
Aku disini kosong, hilang gairahku untuk mencari sosok penggantimu, entah mengapa kau begitu istimewa untuk ukuran orang yang menyebalkan. Rutinitas yang kulakukan hanyalah sebagai syarat pelengkap hidup. Kemarin adalah engkau, hari ini, esok, dan nanti masih tentang engkau.
Mungkin bagian tersulitnya adalah mempertahankan pendirian.
Hingga tanpa sadar abaikan mimpi yang seharusnya lebih di prioritaskan.
Masih saja menoleh, itulah aku yang senang kau dungukan, lalu berlarilah semakin jauh hingga tak lagi tampak dan jejak langkahmu hilang dengan sendirinya.
Biarkan aku berproses untuk menjadi aku yang lebih baik, aku hanya membutuhkan waktu untuk untuk menjadi terbiasa dan bisa, senyaplah.
Tinggalkan kenangan itu untuk mencapai tujuan kita, sehingga kita lebih bisa menghargai satu sama lain suatu saat nanti.
Selamat untukmu dan kehidupanmu saat ini, perihal aku jangan khawatir, aku cukup tangguh untuk melewati masa ini. Hanya saja sedikit ambigu untuk memahaminya, rasa dan pikiran ini masih sering berkecamuk tak menentu. Tapi semua kan membaik, hanya tentang waktu.
"Jika kelak kita kembali bertemu dan berbincang perihal kenangan dulu, maka izinkan aku kembali menjadi sahabatmu, bukan orang asing, bukan pula sebagai seorang yang pernah menyematkan rasa".
Komentar
Posting Komentar