Padamu ku sematkan rasa. padaku kau hancurkan semua. Hilang tak berganti, pergi tak kembali. Entah masih ada atau tidak jalan pulang untukku. aku lelah berorientasi diantara lingkungan baru dimana tidak ada kau disitu, aku lelah berpura tenang tiap postinganmu tentangnya tersebar di Linimasa. Aku masih cemburu akan hal itu, meski dapat kau katakan bahwa aku tidak memiliki hak. Tak ada yang baik-baik, semuanya masih sama. Ya, orang yang senang meleburkan diri dan merelakan untuk terus kau hujam dengan rasa sakit yang teramat perih adalah aku yang kau abaikan meski selalu kau butuhkan. Jika semula tak berniat untuk saling mengikat setidaknya jangan mempermainkan rasa.
Kita tak pernah menjadi apa-apa, dan aku bukan siapa-siapa. Tapi, tidakkah kau ingat bahwa pundak ini yang selalu kau rebah kala bilur menghampirimu, raga ini yang selalu hadir sebagai pelipur lara kala dunia memusuhimu. Jika demikian, lantas sudah layakkah kau menghukumku untuk semua ini?
Aku yang selalu ada, namun tak pernah terencanakan untuk masa depanmu. Bahkan kini sudah kau hapus dari bagian ceritamu, tak lagi kutemukan kau dalam hari-hariku. Semuanya kosong, menyisipkan teka-teki untuk sebuah alasan mengapa setelahmu tak pernah lagi aku jatuh cinta.
Kau adalah labirin terumit yang pernah ada, dan aku tersesat didalamnya. Menikmati tiap langkah yang tak menemu arah, merenungi lelah yang tak pernah sudah, menyusuri jalan yang tak membawaku kemana. Seperti itulah cara sederhanaku mencintaimu dan menikmati tiap rasa sakit yang kau berikan. Semuanya tak berakhir sesal, hanya saja yang aku kesalkan tak kunjung kau berikan aku kesempatan untuk membuatmu jatuh cinta.
Dulu telinga ini senantiasa mendengar setiap kau berkeluh kesah, meski terkadang tak semua ceritamu dapat diberikan solusi. Tapi setidaknya ia bisa menjadi pelepas sesuatu yang mengganjal dibenakmu. Kini tak lagi suaramu dapat ku dengar, tak pula senyumanmu dapat ku lihat, entah apa alasan yang membuat kita memilih untuk menjadi asing.
Aku merindukanmu yang merindukannya. Keterasingan kita mulai membuatku gundah, tapi salahkah jika aku menunggumu yang telah memilih dia?
Apakah harus kurasakan rindu dan cemburu secara bersamaan?
Jatuh cinta dan patah hati di waktu yang sama.
Hingga kelamnya malam menjadi begitu akrab denganku yang terus merangkai menjadikanmu bait aksara dalam setiap kerinduan.
Jika keyakinan terus menuntunku padamu, bisa apa lagi aku?, melawan rasa adalah percuma, karena semakin dilawan ia akan semakin menguat, cukup mengikuti alurnya saat ini, menanti entah kemana takdir membawaku dalam kisa kita. Ada rindu yang tak tersampaikan, ada tanya yang tak pernah terjawab . Hari ini kau meragu, esok kau akan mengerti.
Melihat sekilas, ragumu tak membawa pada kepastian. Jika kita terus begini, cepat atau lambat waktu akan menghukum salah satu dari kita. Salahmu selalu benar dimataku, tapi saat ini, entah esok.
"Beberapa tanya sukar terjawab, beberapa rasa sulit dipahami, bererapa resah berakhir menjadi kisah, kau yang terbelenggu, aku yang menunggu"
Komentar
Posting Komentar