Langsung ke konten utama

Melihat Sekilas

Padamu ku sematkan rasa. padaku kau hancurkan semua. Hilang tak berganti, pergi tak kembali. Entah masih ada atau tidak jalan pulang untukku. aku lelah berorientasi diantara lingkungan baru dimana tidak ada kau disitu, aku lelah berpura tenang tiap postinganmu tentangnya tersebar di Linimasa. Aku masih cemburu akan hal itu, meski dapat kau katakan bahwa aku tidak memiliki hak. Tak ada yang baik-baik, semuanya masih sama. Ya, orang yang senang meleburkan diri dan merelakan untuk terus kau hujam dengan rasa sakit yang teramat perih adalah aku yang kau abaikan meski selalu kau butuhkan. Jika semula tak berniat untuk saling mengikat setidaknya jangan mempermainkan rasa.

Kita tak pernah menjadi apa-apa, dan aku bukan siapa-siapa. Tapi, tidakkah kau ingat bahwa pundak ini yang selalu kau rebah kala bilur menghampirimu, raga ini yang selalu hadir sebagai pelipur lara kala dunia memusuhimu. Jika demikian, lantas sudah layakkah kau menghukumku untuk semua ini?
Aku yang selalu ada, namun tak pernah terencanakan untuk masa depanmu. Bahkan kini sudah kau hapus dari bagian ceritamu, tak lagi kutemukan kau dalam hari-hariku. Semuanya kosong, menyisipkan teka-teki untuk sebuah alasan mengapa setelahmu tak pernah lagi aku jatuh cinta.

Kau adalah labirin terumit yang pernah ada, dan aku tersesat didalamnya. Menikmati tiap langkah yang tak menemu arah, merenungi lelah yang tak pernah sudah, menyusuri jalan yang tak membawaku kemana. Seperti itulah cara sederhanaku mencintaimu dan menikmati tiap rasa sakit yang kau berikan. Semuanya tak berakhir sesal, hanya saja yang aku kesalkan tak kunjung kau berikan aku kesempatan untuk membuatmu jatuh cinta.

Dulu telinga ini senantiasa mendengar setiap kau berkeluh kesah, meski terkadang tak semua ceritamu dapat diberikan solusi. Tapi setidaknya ia bisa menjadi pelepas sesuatu yang mengganjal dibenakmu. Kini tak lagi suaramu dapat ku dengar, tak pula senyumanmu dapat ku lihat, entah apa alasan yang membuat kita memilih untuk menjadi asing.

Aku merindukanmu yang merindukannya. Keterasingan kita mulai membuatku gundah, tapi salahkah jika aku menunggumu yang telah memilih dia?
Apakah harus kurasakan rindu dan cemburu secara bersamaan?
Jatuh cinta dan patah hati di waktu yang sama.
Hingga kelamnya malam menjadi begitu akrab denganku yang terus merangkai menjadikanmu bait aksara dalam setiap kerinduan.

Jika keyakinan terus menuntunku padamu, bisa apa lagi aku?, melawan rasa adalah percuma, karena semakin dilawan ia akan semakin menguat, cukup mengikuti alurnya saat ini, menanti entah kemana takdir membawaku dalam kisa kita. Ada rindu yang tak tersampaikan, ada tanya yang tak pernah terjawab . Hari ini kau meragu, esok kau akan mengerti.

Melihat sekilas, ragumu tak membawa pada kepastian. Jika kita terus begini, cepat atau lambat waktu akan menghukum salah satu dari kita. Salahmu selalu benar dimataku, tapi saat ini, entah esok.


"Beberapa tanya sukar terjawab, beberapa rasa sulit dipahami, bererapa resah berakhir menjadi kisah, kau yang terbelenggu, aku yang menunggu"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sama Yang Berbeda

Sebuah asumsi dapat membuyarkan harapan, entah aku yang terlampau berlebihan, seorang pengecut yang begitu sulit memulai apapun. Bukankah kita memulai semuanya dengan begitu sederhana?, Ya, akupun sama. Percuma berkeluh-kesah dengan keadaan, toh kita memiliki pemikiran dan perasaan yang begitu tak terduga. Tuhan memiliki rencana atas pertemuan kita, mungkin salah satunya agar hidupku bergerak tak lagi terpaku pada masa lalu. Terlalu berlebihan rasanya bila aku mengharap pertemuan ini dapat berlangsung sepanjang kehidupan, karena kita sama yang berbeda. Aku adalah apa yang kau tidak, dan kau adalah sebaliknya. hanya latar belakang yang memiliki sedikit kesamaan. Pertemuan singkat denganmu adalah anugerah, tak ada yang perlu ku sesali, aku hanya meminta izin denganmu untuk membawa sedikit kenangan yang terukir dalam cerita singkat ini, lalu kembali berjalan entah kemana sejauh kaki mampu melangkah. Jangan khawatir, di kejauhan aku akan selalu memperhatikan tiap langkahmu, memastika...

Sudut senyap

Kau mungkin sudah melupa, tapi aku tidak Kau mungkin menganggapnya sirna, tapi bagiku ini semua adalah tunda Kisah kita terlalu singkat, namun kurasa cukup indah Terasa lamban bagiku untuk bergerak setelah beranjak jauh darimu. Malam-malamku masih sering kau usik dengan lirih yang selalu terngiang, semacam repitisi yang senang kulakukan untuk menjadikanmu bait aksara. Ada senyap, tenang, dan sepi yang selalu setia menemaniku mengenangmu, semacam zat adiktif yang sangat kubutuhkan. Hei, kemari. Ayo kita lanjutkan bagian dari kisah kita yang belum usai, akan ku ajak kau kesebuah dimensi yang akan kau senangi, dimana tidak akan ada sedih dan air mata yang menghampirimu, akan ku ajari kau cara tertawa, cara percaya, cara berproses yang selalu membuatmu gembira. Hanya kau dan aku. Aku takkan kemana, masih disini di tempat yang ku sebut sebagai peristirahatan, jika kau merasa mulai lelah dengan langkahmu, maka temui aku disini, di tempat aku melepasmu dulu. Aku akan memapa...

Stagnasi nelangsa

Ada beberapa hal yang menuntunku pada sadar. Ya, mengerti tentang sebuah rasa yang tak semesti dilanjutkan, sikapmu terkadang begitu kejam,begitu abstrak yang juga samar, dikejauhan kau adalah lirih bagiku yang setiap saat selalu hadir dikala hening, dan kali ini kau benar-benar memukulku untuk mundur, tapi sekali lagi hatiku keras kepala. Begitu mahal rasa kepedulian yang kau miliki atau begitu  miskin aku untuk menebusnya. Aku tak mengerti, bahkan waktu tahunan seakan tak mampu membawaku pada sebuah pemahaman tentangmu. Kita adalah dua orang asing meski pada kenyataan saling berhubung; Aku lelah untukmu tapi entah mengapa langkah selalu saja berhasil membawaku padamu, enggan berhenti meski kau terus berlari menjauh. Aku adalah rumah yang tak ingin kau tempati, bahkan terkesan ingin kau hancurkan. Kau dapat menghancurkan dalam sekejap, pun demikian dalam membenahi. Mungkin aku tak akan pernah hadir pada bagian menyenagkan dalam episode hidupmu melainkan hanya pada bagian nela...