Langsung ke konten utama

Postingan

Sama Yang Berbeda

Sebuah asumsi dapat membuyarkan harapan, entah aku yang terlampau berlebihan, seorang pengecut yang begitu sulit memulai apapun. Bukankah kita memulai semuanya dengan begitu sederhana?, Ya, akupun sama. Percuma berkeluh-kesah dengan keadaan, toh kita memiliki pemikiran dan perasaan yang begitu tak terduga. Tuhan memiliki rencana atas pertemuan kita, mungkin salah satunya agar hidupku bergerak tak lagi terpaku pada masa lalu. Terlalu berlebihan rasanya bila aku mengharap pertemuan ini dapat berlangsung sepanjang kehidupan, karena kita sama yang berbeda. Aku adalah apa yang kau tidak, dan kau adalah sebaliknya. hanya latar belakang yang memiliki sedikit kesamaan. Pertemuan singkat denganmu adalah anugerah, tak ada yang perlu ku sesali, aku hanya meminta izin denganmu untuk membawa sedikit kenangan yang terukir dalam cerita singkat ini, lalu kembali berjalan entah kemana sejauh kaki mampu melangkah. Jangan khawatir, di kejauhan aku akan selalu memperhatikan tiap langkahmu, memastika...
Postingan terbaru

Pergi

Angin malam berhembus, dingin menyertai langkahku meninggalkan tempat ini tempat dimana aku mulai bermimpi tempat dimana kau melukis tawaku tempat dimana kau dan aku tak lagi satu Masih teringat jelas langkah mungilmu menari dikepalaku, mengetuk palung hati yang terdalam, meninggalkan bekas tak terhapus, raga beranjak tapi hati tertinggal. aku ingin lebih lama lagi, aku ingin bertemu sejenak lalu menyampaikan kata rindu yang telah lama kupendam sendiri. Lagi-lagi aku gagal, harus ku urungkan niat ini. Menahan rindu lebih lama lagi, membunuh setiap rasa yang kembali mencoba hadir. Aku telah mati untuk raga yang masih bernyawa, setengahku telah kau bawa pergi bersama kenangan. Aku pergi tapi justru aku yang merasa ditinggalkan, hingga untuk menatapmu saja aku tak lagi memiliki keberanian. Andai memiliki kesempatan, aku ingin memelukmu erat sebelum beranjak pergi meninggalkan kota ini, aku akan berbagi banyak cerita denganmu tentang caraku menjalani hidup tanpamu, andai. Terimak...

Melihat Sekilas

Padamu ku sematkan rasa. padaku kau hancurkan semua. Hilang tak berganti, pergi tak kembali. Entah masih ada atau tidak jalan pulang untukku. aku lelah berorientasi diantara lingkungan baru dimana tidak ada kau disitu, aku lelah berpura tenang tiap postinganmu tentangnya tersebar di Linimasa. Aku masih cemburu akan hal itu, meski dapat kau katakan bahwa aku tidak memiliki hak. Tak ada yang baik-baik, semuanya masih sama. Ya, orang yang senang meleburkan diri dan merelakan untuk terus kau hujam dengan rasa sakit yang teramat perih adalah aku yang kau abaikan meski selalu kau butuhkan. Jika semula tak berniat untuk saling mengikat setidaknya jangan mempermainkan rasa. Kita tak pernah menjadi apa-apa, dan aku bukan siapa-siapa. Tapi, tidakkah kau ingat bahwa pundak ini yang selalu kau rebah kala bilur menghampirimu, raga ini yang selalu hadir sebagai pelipur lara kala dunia memusuhimu. Jika demikian, lantas sudah layakkah kau menghukumku untuk semua ini? Aku yang selalu ada, namun ...

Melankolia

Aku pernah memintamu untuk menetap, setengah mati menahan meski kau menghujam dengan tak menghirau Aku pernah memintamu untuk mengerti, sepenuh hati memberikan penjelasan meski kau tak menoleh Aku pernah memintamu peduli, bersungguh memohon meski terus kau abaikan Untukmu, aku pernah. Aku pernah melakukan segala cara agar kau tetap ada dan utuh untukku, hingga merasa tak cukup daya untuk melakukan apa-apa lagi. Akhir-akhir ini aku malas untuk pulang, kampung halaman seakan tak lagi ramah untukku, jarak dan kondisi kuciptakan agar aku mulai terbiasa menjauh dari segala hal tentangmu. jangan lagi mengikutiku, bekerja samalah sejenak untuk kebaikan kita masing-masing. Pada kenyataannya arah kita tak sama, kau berjalan ke sisi barat, dan aku berjalan ke sisi timur. Jangan pula kau menyapaku, sapaanmu memiliki energi yang dapat meluluh lantakan pendirianku, cukup seperti sekarang. Meskipun aku benci untuk mengatakannya sebagai jalan terbaik, tapi cukup adil bagi kita. A...

Ruang Kosong

Terdiam diantara hampa dan kepenatan, merebah dikala luka namun eggan disembuhkan. Dari sekian banyak gemintang yang bertebaran diangkasa ada satu yang paling bersinar dan ku ibaratkan itu adalah engkau sebagai sebuah pengharapanku. Beberapa hal tampak sederhana, tapi sering kali dibuat rumit. Aku baik-baik saja dengan atau tanpamu, bahkan sebelum mengenalmu aku adalah seorang periang yang enerjik dengan kesenangan yang buram meski sebagian orang menganggapnya sebagai lembah perusak. Lalu berproses denganmu mengubah aku menjadi orang yang sedikit pasif, lamban dan menjadi pribadi yang lebih tenang, jauh bertentangan dengan karakter aku yang sebelumnya. Kini kisah kita sudah seperti memasuki fase jeda, atau bahkan berakhir?, tanpa ada yang tersisa melainkan aku yang telah menjadi abu, dan kau berlalu. Tahun berlalu dan masih menunggu orang sama bukanlah waktu yang singkat untuk dikatakan berpasrah diri, berdiri sendiri disuatu ruang kosong, tak berarah, dan diam. Tak melirik ...

Sudut senyap

Kau mungkin sudah melupa, tapi aku tidak Kau mungkin menganggapnya sirna, tapi bagiku ini semua adalah tunda Kisah kita terlalu singkat, namun kurasa cukup indah Terasa lamban bagiku untuk bergerak setelah beranjak jauh darimu. Malam-malamku masih sering kau usik dengan lirih yang selalu terngiang, semacam repitisi yang senang kulakukan untuk menjadikanmu bait aksara. Ada senyap, tenang, dan sepi yang selalu setia menemaniku mengenangmu, semacam zat adiktif yang sangat kubutuhkan. Hei, kemari. Ayo kita lanjutkan bagian dari kisah kita yang belum usai, akan ku ajak kau kesebuah dimensi yang akan kau senangi, dimana tidak akan ada sedih dan air mata yang menghampirimu, akan ku ajari kau cara tertawa, cara percaya, cara berproses yang selalu membuatmu gembira. Hanya kau dan aku. Aku takkan kemana, masih disini di tempat yang ku sebut sebagai peristirahatan, jika kau merasa mulai lelah dengan langkahmu, maka temui aku disini, di tempat aku melepasmu dulu. Aku akan memapa...

Renjana

Kepada, seseorang yang fotonya masih terpajang disudut dinding kamar kost ku, ingin rasanya kubuang, atau bahkan kumusnahkan, segala tentangmu ingin kusingkirkan. hahaha, tapi sialnya aku tak bisa. Mungkin ini adalah untuk kesekian kalinya aku tuliskan surat fiksi yang ku tujukan untukmu, entah kau membacanya atau tidak aku tak peduli. tak mengapa, ia memang tercipta seperti itu, aku senang melakukannya berulang-ulang tanpa harus kau mengetahuinya. Tak bermaksud menyinggungmu atau apapun, tapi aku hanya ingin bercerita. Aku tak ingin menyebut namamu dalam setiap tulisanku, maupun dalam setiap larik-larik puisi yang termaktub dikala hening, bagiku tak perlu nama karena semuanya jelas tertuju untukmu. Mungkin terbersit sedikit pertanyaan dalam benakmu kenapa aku masih terus sendiri untuk waktu selama ini, sama halnya denganku yang masih saja terus memperhatikanmu  berganti pasang. Aku heran denganmu. apa yang kau cari?, Yang ku tau sekarang kau sudah lagi berganti pendampi...