Langsung ke konten utama

Tentangmu #1

Di suatu senja kembali mengingatkanku tentang sebuah perjumpaan kita yang terkesan sederhana, aku yang saat itu terlambat masuk kesalah satu ruangan kelas dimana saat itu mengharuskan ku untuk duduk canggung tak berbaris tepat disebelahmu yang juga duduk bersebelahan dengan teman gendutku. Tak banyak yang kita bicarakan, aku hanya menanyakan waktu untuk sekedar berbasa basi tanpa menyulurkan tangan tanda sebuah perkenalan. 
Kemudian, pertemanan kita terjalin secara alami seperti layaknya pertemanan pada umumnya, hari demi hari kita lalui dengan biasa, tak ada yang aneh, kita tak saling memiliki rasa yang memang seharusnya tak pernah terjadi. Sampai pada suatu ketika untuk jarak waktu yang cukup lama rasa itu muncul, hal yang berada diluar nalarku, yang tak pernah aku bayangkan untuk memilikinya, entah kapan hal itu terjadi aku bahkan tak dapat mengingat dengan pasti kapan pertama kali aku menyukaimu yang kutahu hingga saat ini aku masih menyukaimu dan belum punah. 
Tahukah kau apa yang berubah saat pertama aku mulai menyukaimu?. Ya, aku yang pemalas ini menjadi mendadak rajin untuk masuk kelas, tak kubiarkan saat-saat terakhir itu melewatkan hari untuk tidak berjumpa denganmu. Matamu yang coklat kerap kali membiusku hingga lupa batasan antara kita, Aku belum mengungkapkan apapun sama sekali tentang apa yang kurasa tapi saat itu aku merasa kau juga memiliki rasa yang sama sepertiku.
Aku terus menunda untuk berkata karena pada saat itu aku tau kau sedang memiliki kekasih yang entah mengapa terus kau pertahankan meski terus menyakitimu, aku membencinya, aku menganggapnya musuh, ya, bagiku setiap orang yang menyakitimu adalah musuhku. Hari demi hari terus berlalu, kau sering menceritakan bagaimana rumitnya hubunganmu dengan musuhku itu dan aku menjadi pendengar setia setiap keluh kesahmu tentangnya sembari sesekali memberikan saran yang sebenarnya bertentangan dengan rasaku untukmu. Kita terus terjerumus didalam zona pertemanan, aku yang berusaha untuk keluar selalu saja menemui hambatan saat tangan-tanganmu terus merayap mencoba mencegahku untuk keluar. Sampai pada suatu ketika saat perpisahan tiba. Aku menjadi orang yang pendiam, aku benci hari itu. Karena aku tau hari-hari berikutnya aku tak lagi dapat melihatmu sesering ini, aku juga benci untuk mengetahui bahwa hari itu kau tengah asik bersama musuh lamaku. Ah tapi sudahlah, setidaknya aku sudah memikirkan cara untuk berbicara padamu. 
Dan tibalah pada suatu puncak dari perpisahan kebersamaan yang sesungguhnya, aku sudah memikirkan matang-matang sudah kuhafal sepanjang hari kalimat apa saja yang akan ku katakan, sudah kusediakan tempat dimana kita bersama teman-teman Seperjuangan dapat berkumpul untuk terakhir kali sebelum memilih untuk menentukan arah langkah masing-masing. malam tampak gelap,  cuaca mendung, seperti akan turun hujan. Aku sudah mempersiapkan segalanya, sudah kupersiapan peralatan musik yang akan mengiringi kebersamaan kita, sudah kumantapkan hatiku untuk berbicara denganmu. Tak lama kemudian tampak dari kejauhan kau tiba bersama para teman seperjuangan, rambutmu yang terurai dengan balutan seragam putih abu abu penuh dengan coretan membuat pandanganku nanar ke arahmu, ingin kuberkata "kau cantik malam ini" tapi ku urungkan semua pemikiran sesaat kala itu, dan kita pun mulai berkumpul sembari berselfi ria dan menceritakan kesan-kesan saat bersama. 
Dan saat itu tiba, semua mendadak hening saat aku mencoba berbicara denganmu, masih kuingat dengan jelas mereka mengerubuni kita sembari mendengarkan setiap kalimat yang kulontarkan untukmu tentang rasa, saat itu aku benar-benar yakin karena aku tau kau sudah berpisah dengan musuhku itu. Tapi ternyata jawabanmu tidak sesuai imajinasiku, kau bilang kau tidak ingin aku berubah, tidak ingin suatu saat nanti kita bermusuhan karena tidak sepemahaman, kau takut kita akan berakhir layaknya hubunganmu dengan musuh-musuhku sebelumnya, mungkin karena sudah terlalu lama kita terlibat zona pertemanan. Aku hanya bisa terdiam dan merasa bahwa langit gelap tanpa bintang sedang menertawakanku. 
Kini kau terus melanjutkan kisahmu dan sudah berhasil menciptakan beberapa musuh baruku, sementara aku masih saja berbenah diri menunggu kepulanganmu entah itu akan terjadi atau tidak. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sama Yang Berbeda

Sebuah asumsi dapat membuyarkan harapan, entah aku yang terlampau berlebihan, seorang pengecut yang begitu sulit memulai apapun. Bukankah kita memulai semuanya dengan begitu sederhana?, Ya, akupun sama. Percuma berkeluh-kesah dengan keadaan, toh kita memiliki pemikiran dan perasaan yang begitu tak terduga. Tuhan memiliki rencana atas pertemuan kita, mungkin salah satunya agar hidupku bergerak tak lagi terpaku pada masa lalu. Terlalu berlebihan rasanya bila aku mengharap pertemuan ini dapat berlangsung sepanjang kehidupan, karena kita sama yang berbeda. Aku adalah apa yang kau tidak, dan kau adalah sebaliknya. hanya latar belakang yang memiliki sedikit kesamaan. Pertemuan singkat denganmu adalah anugerah, tak ada yang perlu ku sesali, aku hanya meminta izin denganmu untuk membawa sedikit kenangan yang terukir dalam cerita singkat ini, lalu kembali berjalan entah kemana sejauh kaki mampu melangkah. Jangan khawatir, di kejauhan aku akan selalu memperhatikan tiap langkahmu, memastika...

Sudut senyap

Kau mungkin sudah melupa, tapi aku tidak Kau mungkin menganggapnya sirna, tapi bagiku ini semua adalah tunda Kisah kita terlalu singkat, namun kurasa cukup indah Terasa lamban bagiku untuk bergerak setelah beranjak jauh darimu. Malam-malamku masih sering kau usik dengan lirih yang selalu terngiang, semacam repitisi yang senang kulakukan untuk menjadikanmu bait aksara. Ada senyap, tenang, dan sepi yang selalu setia menemaniku mengenangmu, semacam zat adiktif yang sangat kubutuhkan. Hei, kemari. Ayo kita lanjutkan bagian dari kisah kita yang belum usai, akan ku ajak kau kesebuah dimensi yang akan kau senangi, dimana tidak akan ada sedih dan air mata yang menghampirimu, akan ku ajari kau cara tertawa, cara percaya, cara berproses yang selalu membuatmu gembira. Hanya kau dan aku. Aku takkan kemana, masih disini di tempat yang ku sebut sebagai peristirahatan, jika kau merasa mulai lelah dengan langkahmu, maka temui aku disini, di tempat aku melepasmu dulu. Aku akan memapa...

Stagnasi nelangsa

Ada beberapa hal yang menuntunku pada sadar. Ya, mengerti tentang sebuah rasa yang tak semesti dilanjutkan, sikapmu terkadang begitu kejam,begitu abstrak yang juga samar, dikejauhan kau adalah lirih bagiku yang setiap saat selalu hadir dikala hening, dan kali ini kau benar-benar memukulku untuk mundur, tapi sekali lagi hatiku keras kepala. Begitu mahal rasa kepedulian yang kau miliki atau begitu  miskin aku untuk menebusnya. Aku tak mengerti, bahkan waktu tahunan seakan tak mampu membawaku pada sebuah pemahaman tentangmu. Kita adalah dua orang asing meski pada kenyataan saling berhubung; Aku lelah untukmu tapi entah mengapa langkah selalu saja berhasil membawaku padamu, enggan berhenti meski kau terus berlari menjauh. Aku adalah rumah yang tak ingin kau tempati, bahkan terkesan ingin kau hancurkan. Kau dapat menghancurkan dalam sekejap, pun demikian dalam membenahi. Mungkin aku tak akan pernah hadir pada bagian menyenagkan dalam episode hidupmu melainkan hanya pada bagian nela...