Di suatu senja kembali mengingatkanku tentang sebuah perjumpaan kita yang terkesan sederhana, aku yang saat itu terlambat masuk kesalah satu ruangan kelas dimana saat itu mengharuskan ku untuk duduk canggung tak berbaris tepat disebelahmu yang juga duduk bersebelahan dengan teman gendutku. Tak banyak yang kita bicarakan, aku hanya menanyakan waktu untuk sekedar berbasa basi tanpa menyulurkan tangan tanda sebuah perkenalan.
Kemudian, pertemanan kita terjalin secara alami seperti layaknya pertemanan pada umumnya, hari demi hari kita lalui dengan biasa, tak ada yang aneh, kita tak saling memiliki rasa yang memang seharusnya tak pernah terjadi. Sampai pada suatu ketika untuk jarak waktu yang cukup lama rasa itu muncul, hal yang berada diluar nalarku, yang tak pernah aku bayangkan untuk memilikinya, entah kapan hal itu terjadi aku bahkan tak dapat mengingat dengan pasti kapan pertama kali aku menyukaimu yang kutahu hingga saat ini aku masih menyukaimu dan belum punah.
Tahukah kau apa yang berubah saat pertama aku mulai menyukaimu?. Ya, aku yang pemalas ini menjadi mendadak rajin untuk masuk kelas, tak kubiarkan saat-saat terakhir itu melewatkan hari untuk tidak berjumpa denganmu. Matamu yang coklat kerap kali membiusku hingga lupa batasan antara kita, Aku belum mengungkapkan apapun sama sekali tentang apa yang kurasa tapi saat itu aku merasa kau juga memiliki rasa yang sama sepertiku.
Aku terus menunda untuk berkata karena pada saat itu aku tau kau sedang memiliki kekasih yang entah mengapa terus kau pertahankan meski terus menyakitimu, aku membencinya, aku menganggapnya musuh, ya, bagiku setiap orang yang menyakitimu adalah musuhku. Hari demi hari terus berlalu, kau sering menceritakan bagaimana rumitnya hubunganmu dengan musuhku itu dan aku menjadi pendengar setia setiap keluh kesahmu tentangnya sembari sesekali memberikan saran yang sebenarnya bertentangan dengan rasaku untukmu. Kita terus terjerumus didalam zona pertemanan, aku yang berusaha untuk keluar selalu saja menemui hambatan saat tangan-tanganmu terus merayap mencoba mencegahku untuk keluar. Sampai pada suatu ketika saat perpisahan tiba. Aku menjadi orang yang pendiam, aku benci hari itu. Karena aku tau hari-hari berikutnya aku tak lagi dapat melihatmu sesering ini, aku juga benci untuk mengetahui bahwa hari itu kau tengah asik bersama musuh lamaku. Ah tapi sudahlah, setidaknya aku sudah memikirkan cara untuk berbicara padamu.
Dan tibalah pada suatu puncak dari perpisahan kebersamaan yang sesungguhnya, aku sudah memikirkan matang-matang sudah kuhafal sepanjang hari kalimat apa saja yang akan ku katakan, sudah kusediakan tempat dimana kita bersama teman-teman Seperjuangan dapat berkumpul untuk terakhir kali sebelum memilih untuk menentukan arah langkah masing-masing. malam tampak gelap, cuaca mendung, seperti akan turun hujan. Aku sudah mempersiapkan segalanya, sudah kupersiapan peralatan musik yang akan mengiringi kebersamaan kita, sudah kumantapkan hatiku untuk berbicara denganmu. Tak lama kemudian tampak dari kejauhan kau tiba bersama para teman seperjuangan, rambutmu yang terurai dengan balutan seragam putih abu abu penuh dengan coretan membuat pandanganku nanar ke arahmu, ingin kuberkata "kau cantik malam ini" tapi ku urungkan semua pemikiran sesaat kala itu, dan kita pun mulai berkumpul sembari berselfi ria dan menceritakan kesan-kesan saat bersama.
Dan saat itu tiba, semua mendadak hening saat aku mencoba berbicara denganmu, masih kuingat dengan jelas mereka mengerubuni kita sembari mendengarkan setiap kalimat yang kulontarkan untukmu tentang rasa, saat itu aku benar-benar yakin karena aku tau kau sudah berpisah dengan musuhku itu. Tapi ternyata jawabanmu tidak sesuai imajinasiku, kau bilang kau tidak ingin aku berubah, tidak ingin suatu saat nanti kita bermusuhan karena tidak sepemahaman, kau takut kita akan berakhir layaknya hubunganmu dengan musuh-musuhku sebelumnya, mungkin karena sudah terlalu lama kita terlibat zona pertemanan. Aku hanya bisa terdiam dan merasa bahwa langit gelap tanpa bintang sedang menertawakanku.
Kini kau terus melanjutkan kisahmu dan sudah berhasil menciptakan beberapa musuh baruku, sementara aku masih saja berbenah diri menunggu kepulanganmu entah itu akan terjadi atau tidak.
Komentar
Posting Komentar