Padamu ku sematkan rasa. padaku kau hancurkan semua. Hilang tak berganti, pergi tak kembali. Entah masih ada atau tidak jalan pulang untukku. aku lelah berorientasi diantara lingkungan baru dimana tidak ada kau disitu, aku lelah berpura tenang tiap postinganmu tentangnya tersebar di Linimasa. Aku masih cemburu akan hal itu, meski dapat kau katakan bahwa aku tidak memiliki hak. Tak ada yang baik-baik, semuanya masih sama. Ya, orang yang senang meleburkan diri dan merelakan untuk terus kau hujam dengan rasa sakit yang teramat perih adalah aku yang kau abaikan meski selalu kau butuhkan. Jika semula tak berniat untuk saling mengikat setidaknya jangan mempermainkan rasa. Kita tak pernah menjadi apa-apa, dan aku bukan siapa-siapa. Tapi, tidakkah kau ingat bahwa pundak ini yang selalu kau rebah kala bilur menghampirimu, raga ini yang selalu hadir sebagai pelipur lara kala dunia memusuhimu. Jika demikian, lantas sudah layakkah kau menghukumku untuk semua ini? Aku yang selalu ada, namun ...