Terdiam diantara hampa dan kepenatan, merebah dikala luka namun eggan disembuhkan. Dari sekian banyak gemintang yang bertebaran diangkasa ada satu yang paling bersinar dan ku ibaratkan itu adalah engkau sebagai sebuah pengharapanku. Beberapa hal tampak sederhana, tapi sering kali dibuat rumit. Aku baik-baik saja dengan atau tanpamu, bahkan sebelum mengenalmu aku adalah seorang periang yang enerjik dengan kesenangan yang buram meski sebagian orang menganggapnya sebagai lembah perusak. Lalu berproses denganmu mengubah aku menjadi orang yang sedikit pasif, lamban dan menjadi pribadi yang lebih tenang, jauh bertentangan dengan karakter aku yang sebelumnya. Kini kisah kita sudah seperti memasuki fase jeda, atau bahkan berakhir?, tanpa ada yang tersisa melainkan aku yang telah menjadi abu, dan kau berlalu. Tahun berlalu dan masih menunggu orang sama bukanlah waktu yang singkat untuk dikatakan berpasrah diri, berdiri sendiri disuatu ruang kosong, tak berarah, dan diam. Tak melirik ...