Langsung ke konten utama

Ruang Kosong

Terdiam diantara hampa dan kepenatan, merebah dikala luka namun eggan disembuhkan.
Dari sekian banyak gemintang yang bertebaran diangkasa ada satu yang paling bersinar dan ku ibaratkan itu adalah engkau sebagai sebuah pengharapanku.

Beberapa hal tampak sederhana, tapi sering kali dibuat rumit. Aku baik-baik saja dengan atau tanpamu, bahkan sebelum mengenalmu aku adalah seorang periang yang enerjik dengan kesenangan yang buram meski sebagian orang menganggapnya sebagai lembah perusak. Lalu berproses denganmu mengubah aku menjadi orang yang sedikit pasif, lamban dan menjadi pribadi yang lebih tenang, jauh bertentangan dengan karakter aku yang sebelumnya.

Kini kisah kita sudah seperti memasuki fase jeda, atau bahkan berakhir?, tanpa ada yang tersisa melainkan aku yang telah menjadi abu, dan kau berlalu. Tahun berlalu dan masih menunggu orang sama bukanlah waktu yang singkat untuk dikatakan berpasrah diri, berdiri sendiri disuatu ruang kosong, tak berarah, dan diam. Tak melirik kemanapun, dan tatapan masih tertuju pada bekas jejak langkahmu yang telah pergi.

Bukannya tak ingin pulang, hanya saja rumah tampak menyebalkan
Bukannya tak bisa beranjak, hanya saja tak ingin
Bukan pula tak bisa berpaling, hanya saja tak ingin
Tak ingin, tak ingin, dan tak ingin.
Semua ketidak inginanku untuk benar-benar membiarkanmu berjalan sendiri, aku sekarang mengawasimu dari kejauhan meski kau tak mengetahuinya (mengetahui namun tak peduli). Lalu berkamuflase menjadi tidak peduli untuk benar-benar memperhatikanmu daripada sebelumnya.

Jadi, sampaikanlah hatimu pada pemahaman rasa yang konservatif, sehingga tampak kejernihan yang kan membuatmu tersadar, harusnya kau mulai bisa menyadari bahwa arah yang kau pilih adalah salah, yang mungkin akan membawamu tersesat atau bahkan hancur.

Kau hanya  perlu terima tanpa perlu memahami dan tak harus berpikir; kembali lagi ke persoalan sederhananya yang begitu mudah diucap namun sukar dilakukan. 
Singkat kata bagiku kau terlalu indah untuk menjadi nyata, namun selama hidup terus berjalan masih banyak kemungkinan besar yang akan datang dan mungkin pula kau salah satu kemungkinan besar itu.


"Ruang kosong adalah aku, sebelum dan setelah kau hadir"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sama Yang Berbeda

Sebuah asumsi dapat membuyarkan harapan, entah aku yang terlampau berlebihan, seorang pengecut yang begitu sulit memulai apapun. Bukankah kita memulai semuanya dengan begitu sederhana?, Ya, akupun sama. Percuma berkeluh-kesah dengan keadaan, toh kita memiliki pemikiran dan perasaan yang begitu tak terduga. Tuhan memiliki rencana atas pertemuan kita, mungkin salah satunya agar hidupku bergerak tak lagi terpaku pada masa lalu. Terlalu berlebihan rasanya bila aku mengharap pertemuan ini dapat berlangsung sepanjang kehidupan, karena kita sama yang berbeda. Aku adalah apa yang kau tidak, dan kau adalah sebaliknya. hanya latar belakang yang memiliki sedikit kesamaan. Pertemuan singkat denganmu adalah anugerah, tak ada yang perlu ku sesali, aku hanya meminta izin denganmu untuk membawa sedikit kenangan yang terukir dalam cerita singkat ini, lalu kembali berjalan entah kemana sejauh kaki mampu melangkah. Jangan khawatir, di kejauhan aku akan selalu memperhatikan tiap langkahmu, memastika...

Sudut senyap

Kau mungkin sudah melupa, tapi aku tidak Kau mungkin menganggapnya sirna, tapi bagiku ini semua adalah tunda Kisah kita terlalu singkat, namun kurasa cukup indah Terasa lamban bagiku untuk bergerak setelah beranjak jauh darimu. Malam-malamku masih sering kau usik dengan lirih yang selalu terngiang, semacam repitisi yang senang kulakukan untuk menjadikanmu bait aksara. Ada senyap, tenang, dan sepi yang selalu setia menemaniku mengenangmu, semacam zat adiktif yang sangat kubutuhkan. Hei, kemari. Ayo kita lanjutkan bagian dari kisah kita yang belum usai, akan ku ajak kau kesebuah dimensi yang akan kau senangi, dimana tidak akan ada sedih dan air mata yang menghampirimu, akan ku ajari kau cara tertawa, cara percaya, cara berproses yang selalu membuatmu gembira. Hanya kau dan aku. Aku takkan kemana, masih disini di tempat yang ku sebut sebagai peristirahatan, jika kau merasa mulai lelah dengan langkahmu, maka temui aku disini, di tempat aku melepasmu dulu. Aku akan memapa...

Stagnasi nelangsa

Ada beberapa hal yang menuntunku pada sadar. Ya, mengerti tentang sebuah rasa yang tak semesti dilanjutkan, sikapmu terkadang begitu kejam,begitu abstrak yang juga samar, dikejauhan kau adalah lirih bagiku yang setiap saat selalu hadir dikala hening, dan kali ini kau benar-benar memukulku untuk mundur, tapi sekali lagi hatiku keras kepala. Begitu mahal rasa kepedulian yang kau miliki atau begitu  miskin aku untuk menebusnya. Aku tak mengerti, bahkan waktu tahunan seakan tak mampu membawaku pada sebuah pemahaman tentangmu. Kita adalah dua orang asing meski pada kenyataan saling berhubung; Aku lelah untukmu tapi entah mengapa langkah selalu saja berhasil membawaku padamu, enggan berhenti meski kau terus berlari menjauh. Aku adalah rumah yang tak ingin kau tempati, bahkan terkesan ingin kau hancurkan. Kau dapat menghancurkan dalam sekejap, pun demikian dalam membenahi. Mungkin aku tak akan pernah hadir pada bagian menyenagkan dalam episode hidupmu melainkan hanya pada bagian nela...