Kepada, seseorang yang fotonya masih terpajang disudut dinding kamar kost ku, ingin rasanya kubuang, atau bahkan kumusnahkan, segala tentangmu ingin kusingkirkan. hahaha, tapi sialnya aku tak bisa.
Mungkin ini adalah untuk kesekian kalinya aku tuliskan surat fiksi yang ku tujukan untukmu, entah kau membacanya atau tidak aku tak peduli. tak mengapa, ia memang tercipta seperti itu, aku senang melakukannya berulang-ulang tanpa harus kau mengetahuinya.
Tak bermaksud menyinggungmu atau apapun, tapi aku hanya ingin bercerita. Aku tak ingin menyebut namamu dalam setiap tulisanku, maupun dalam setiap larik-larik puisi yang termaktub dikala hening, bagiku tak perlu nama karena semuanya jelas tertuju untukmu.
Mungkin terbersit sedikit pertanyaan dalam benakmu kenapa aku masih terus sendiri untuk waktu selama ini, sama halnya denganku yang masih saja terus memperhatikanmu berganti pasang. Aku heran denganmu. apa yang kau cari?, Yang ku tau sekarang kau sudah lagi berganti pendamping, tapi yang aku ragukan apakah dia dapat menjamin setiap bahagiamu tanpa tetes air mata dan meluka?, Apakah cara dia mencintaimu jauh lebih hebat dari caraku?, Mungkin kau beranggapan dia adalah sosok yang dapat menyempurnakan ketidak sempurnaanmu yang sebenarnya dimataku sudah sangat sempurna, namun aku tidak mengetahui isi pikiranmu, aku hanya bisa menerka-nerka.
Dan, jika boleh aku mendefinisikan caramu menyakitiku, maka rasa sakit itu adalah sebuah candu, aku tidak bisa melepaskannya meski tau berakibat buruk, bukan tak bisa berhenti hanya saja aku tak ingin melakukannya. Kali ini aku benar-benar menjadi orang bodoh yang begitu sempurna untuk menjadi mainanmu atau lebih buruk dari itu.
Masih ku ingat saat pertama perkenalan kita dan aku tak menyangka akan menjadi hari bersejarah dan cerita yang panjang dalam hidupku, masih ku ingat senyum manis bibirmu, masih ku ingat tatapan dua bola matamu yang selalu berhasil membuat aku merasa nyaman tiap berada didekatmu. Tapi sayangnya semua itu bukan menjadi milikku melainkan menjadi milik orang yang saat ini sedang bersamamu.
Sikapmu sulit dimengerti nalarku, tapi hatiku selalu memberikan toleransi untuk segala hal tidak wajar yang kerap kau lakukan terhadapku. Tapi sekarang sepertinya hatiku mulai sedikit mengalah kepada pikiranku agar mencegah kehancuran yang lebih fatal, sama seperti yang sempat kutuliskan disurat fiksi sebelumnya, izinkan aku beristirahat, bukan berhenti. Aku tak tau apakah suatu saat akan berlanjut mengejarmu, menunggumu, atau mungkin akan ada seseorang yang datang dengan tulus dan menolong aku yang sedang keletihan ini.
Hanya saja, aku berharap jika kita bertemu kembali, jatuh cinta lagi, maukah kau menerimaku?
Dan sampai saat ini, aku adalah orang yang mencintaimu dengan sangat.
Masih.
"jika kelak kita bertemu kembali, izinkan aku mengenalmu sedari awal, dan tak perlu terlibat zona pertemanan yang begitu pelik"
Komentar
Posting Komentar