Langsung ke konten utama

Renjana

Kepada, seseorang yang fotonya masih terpajang disudut dinding kamar kost ku, ingin rasanya kubuang, atau bahkan kumusnahkan, segala tentangmu ingin kusingkirkan. hahaha, tapi sialnya aku tak bisa.

Mungkin ini adalah untuk kesekian kalinya aku tuliskan surat fiksi yang ku tujukan untukmu, entah kau membacanya atau tidak aku tak peduli. tak mengapa, ia memang tercipta seperti itu, aku senang melakukannya berulang-ulang tanpa harus kau mengetahuinya.

Tak bermaksud menyinggungmu atau apapun, tapi aku hanya ingin bercerita. Aku tak ingin menyebut namamu dalam setiap tulisanku, maupun dalam setiap larik-larik puisi yang termaktub dikala hening, bagiku tak perlu nama karena semuanya jelas tertuju untukmu.
Mungkin terbersit sedikit pertanyaan dalam benakmu kenapa aku masih terus sendiri untuk waktu selama ini, sama halnya denganku yang masih saja terus memperhatikanmu  berganti pasang. Aku heran denganmu. apa yang kau cari?, Yang ku tau sekarang kau sudah lagi berganti pendamping, tapi yang aku ragukan apakah dia dapat menjamin setiap bahagiamu tanpa tetes air mata dan meluka?, Apakah cara dia mencintaimu jauh lebih hebat dari caraku?, Mungkin kau beranggapan dia adalah sosok yang dapat menyempurnakan ketidak sempurnaanmu yang sebenarnya dimataku sudah sangat sempurna, namun aku tidak mengetahui isi pikiranmu, aku hanya bisa menerka-nerka.

Dan, jika boleh aku mendefinisikan caramu menyakitiku, maka rasa sakit itu adalah sebuah candu, aku tidak bisa melepaskannya meski tau berakibat buruk, bukan tak bisa berhenti hanya saja aku tak ingin melakukannya. Kali ini aku benar-benar menjadi orang bodoh yang begitu sempurna untuk menjadi mainanmu atau lebih buruk dari itu.

Masih ku ingat saat pertama perkenalan kita dan aku tak menyangka akan menjadi hari bersejarah dan cerita yang panjang dalam hidupku, masih ku ingat senyum manis bibirmu, masih ku ingat tatapan dua bola matamu yang selalu berhasil membuat aku merasa nyaman tiap berada didekatmu. Tapi sayangnya semua itu bukan menjadi milikku melainkan menjadi milik orang yang saat ini sedang bersamamu.

Sikapmu sulit dimengerti nalarku, tapi hatiku selalu memberikan toleransi untuk segala hal tidak wajar yang kerap kau lakukan terhadapku. Tapi sekarang sepertinya hatiku mulai sedikit mengalah kepada pikiranku agar mencegah kehancuran yang lebih fatal, sama seperti yang sempat kutuliskan disurat fiksi sebelumnya, izinkan aku beristirahat, bukan berhenti. Aku tak tau apakah suatu saat akan berlanjut mengejarmu, menunggumu, atau mungkin akan ada seseorang yang datang dengan tulus dan menolong aku yang sedang keletihan ini.

Hanya saja, aku berharap jika kita bertemu  kembali, jatuh cinta lagi, maukah kau menerimaku?
Dan sampai saat ini, aku adalah orang yang mencintaimu dengan sangat.
Masih.


"jika kelak kita bertemu kembali, izinkan aku mengenalmu sedari awal, dan tak perlu terlibat zona pertemanan yang begitu pelik"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sama Yang Berbeda

Sebuah asumsi dapat membuyarkan harapan, entah aku yang terlampau berlebihan, seorang pengecut yang begitu sulit memulai apapun. Bukankah kita memulai semuanya dengan begitu sederhana?, Ya, akupun sama. Percuma berkeluh-kesah dengan keadaan, toh kita memiliki pemikiran dan perasaan yang begitu tak terduga. Tuhan memiliki rencana atas pertemuan kita, mungkin salah satunya agar hidupku bergerak tak lagi terpaku pada masa lalu. Terlalu berlebihan rasanya bila aku mengharap pertemuan ini dapat berlangsung sepanjang kehidupan, karena kita sama yang berbeda. Aku adalah apa yang kau tidak, dan kau adalah sebaliknya. hanya latar belakang yang memiliki sedikit kesamaan. Pertemuan singkat denganmu adalah anugerah, tak ada yang perlu ku sesali, aku hanya meminta izin denganmu untuk membawa sedikit kenangan yang terukir dalam cerita singkat ini, lalu kembali berjalan entah kemana sejauh kaki mampu melangkah. Jangan khawatir, di kejauhan aku akan selalu memperhatikan tiap langkahmu, memastika...

Sudut senyap

Kau mungkin sudah melupa, tapi aku tidak Kau mungkin menganggapnya sirna, tapi bagiku ini semua adalah tunda Kisah kita terlalu singkat, namun kurasa cukup indah Terasa lamban bagiku untuk bergerak setelah beranjak jauh darimu. Malam-malamku masih sering kau usik dengan lirih yang selalu terngiang, semacam repitisi yang senang kulakukan untuk menjadikanmu bait aksara. Ada senyap, tenang, dan sepi yang selalu setia menemaniku mengenangmu, semacam zat adiktif yang sangat kubutuhkan. Hei, kemari. Ayo kita lanjutkan bagian dari kisah kita yang belum usai, akan ku ajak kau kesebuah dimensi yang akan kau senangi, dimana tidak akan ada sedih dan air mata yang menghampirimu, akan ku ajari kau cara tertawa, cara percaya, cara berproses yang selalu membuatmu gembira. Hanya kau dan aku. Aku takkan kemana, masih disini di tempat yang ku sebut sebagai peristirahatan, jika kau merasa mulai lelah dengan langkahmu, maka temui aku disini, di tempat aku melepasmu dulu. Aku akan memapa...

Stagnasi nelangsa

Ada beberapa hal yang menuntunku pada sadar. Ya, mengerti tentang sebuah rasa yang tak semesti dilanjutkan, sikapmu terkadang begitu kejam,begitu abstrak yang juga samar, dikejauhan kau adalah lirih bagiku yang setiap saat selalu hadir dikala hening, dan kali ini kau benar-benar memukulku untuk mundur, tapi sekali lagi hatiku keras kepala. Begitu mahal rasa kepedulian yang kau miliki atau begitu  miskin aku untuk menebusnya. Aku tak mengerti, bahkan waktu tahunan seakan tak mampu membawaku pada sebuah pemahaman tentangmu. Kita adalah dua orang asing meski pada kenyataan saling berhubung; Aku lelah untukmu tapi entah mengapa langkah selalu saja berhasil membawaku padamu, enggan berhenti meski kau terus berlari menjauh. Aku adalah rumah yang tak ingin kau tempati, bahkan terkesan ingin kau hancurkan. Kau dapat menghancurkan dalam sekejap, pun demikian dalam membenahi. Mungkin aku tak akan pernah hadir pada bagian menyenagkan dalam episode hidupmu melainkan hanya pada bagian nela...