Langsung ke konten utama

LANGKAH SENJA

Kenangan dikala itu hanyut terbuai bersama kisah yang tak bisa dinalar, lembayung senjapun seolah enggan mengakhiri hari panjang dimana seorang insan terus asik bermain bersama sang mentari tanpa pernah berpikir akan berakhir.
Semuanya berjalan secara alami mengikuti semesta yang terus bergerak. Entah aku yang terlalu berlebihan atau kau yang kurang perasa dan tak dapat memahami arti makna dari sebuah hubungan, yang mana menjadi sendu tak berkesudahan untukku sebagai seseorang yang tak pernah berpikir untuk beranjak darimu.
Kau sempat membuatku percaya bahwa malaikat tak bersayap itu nyata adanya tatkala kau berhasil menghidupkan kembali jiwa seseorang yang telah mati dan mewarnainya dengan manis canda tawamu, namun seiring berjalannya waktu kau pula lah yang membunuh jiwa itu dan mengakhiri sebuah kisah dengan hanya meninggalkan lirih yang terus terngiang disepancaran telinga dari kejauhan.
Semestaku terdiam saat kita berakhir, aku seolah berdiri diatas gamang saat semuanya usai, entah bagaimana caraku melanjutkan hidup yang telah terbisa bersamamu saat kau menjadi semangat asaku dan terus bermain bermain bersama sepanjang waktu mengikuti regulasimu.
Aku pergi, mungkin hal itulah yang paling kau inginkan saat bosan mulai melanda rasamu yang mana tanpa sadar kau mengabaikan hal yang lebih penting dari sekedar kebahagiaan sesaat. Bukan tentang keindahan semu, melainkan seseorang yang tak pernah berniat meninggalkanmu dalam keadaan apapun. Bahkan setelah itu tak tampak jalinan perubahan suatu hubungan yang tidak mempunyai nama seperti yang sempat kau katakan melainkan kita hanya bagai dua orang asing yang tidak saling sapa tanpa memikirkan rangkum kenangan yang sudah terpatri sebelumnya.
Entah seberapa besar ego yang kau pertahankan manakala jeda menghampiri, seberapa banyak harap dan angan yang kau hancurkan, dan sebuah rasa tulus yang kau siakan.
Aku benci caramu meninggikanku, aku benci caramu meninggalkanku, aku benci melihat kau bahagia tanpaku, dan yang paling ku benci adalah aku tak bisa membencimu.
Kini aku hanya terhanyut menepis realita kau bukan milikku meskipun pilu terus menghampiri rasaku, entah sampai kapan aku terus mendambamu. Namun setelah kau yang ku tahu aku hanyalah seorang yang dipaksakan keadaan meminang dua hati yang genap yang secara realita aku bukanlah menjadi bagian didalamnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sama Yang Berbeda

Sebuah asumsi dapat membuyarkan harapan, entah aku yang terlampau berlebihan, seorang pengecut yang begitu sulit memulai apapun. Bukankah kita memulai semuanya dengan begitu sederhana?, Ya, akupun sama. Percuma berkeluh-kesah dengan keadaan, toh kita memiliki pemikiran dan perasaan yang begitu tak terduga. Tuhan memiliki rencana atas pertemuan kita, mungkin salah satunya agar hidupku bergerak tak lagi terpaku pada masa lalu. Terlalu berlebihan rasanya bila aku mengharap pertemuan ini dapat berlangsung sepanjang kehidupan, karena kita sama yang berbeda. Aku adalah apa yang kau tidak, dan kau adalah sebaliknya. hanya latar belakang yang memiliki sedikit kesamaan. Pertemuan singkat denganmu adalah anugerah, tak ada yang perlu ku sesali, aku hanya meminta izin denganmu untuk membawa sedikit kenangan yang terukir dalam cerita singkat ini, lalu kembali berjalan entah kemana sejauh kaki mampu melangkah. Jangan khawatir, di kejauhan aku akan selalu memperhatikan tiap langkahmu, memastika...

Sudut senyap

Kau mungkin sudah melupa, tapi aku tidak Kau mungkin menganggapnya sirna, tapi bagiku ini semua adalah tunda Kisah kita terlalu singkat, namun kurasa cukup indah Terasa lamban bagiku untuk bergerak setelah beranjak jauh darimu. Malam-malamku masih sering kau usik dengan lirih yang selalu terngiang, semacam repitisi yang senang kulakukan untuk menjadikanmu bait aksara. Ada senyap, tenang, dan sepi yang selalu setia menemaniku mengenangmu, semacam zat adiktif yang sangat kubutuhkan. Hei, kemari. Ayo kita lanjutkan bagian dari kisah kita yang belum usai, akan ku ajak kau kesebuah dimensi yang akan kau senangi, dimana tidak akan ada sedih dan air mata yang menghampirimu, akan ku ajari kau cara tertawa, cara percaya, cara berproses yang selalu membuatmu gembira. Hanya kau dan aku. Aku takkan kemana, masih disini di tempat yang ku sebut sebagai peristirahatan, jika kau merasa mulai lelah dengan langkahmu, maka temui aku disini, di tempat aku melepasmu dulu. Aku akan memapa...

Stagnasi nelangsa

Ada beberapa hal yang menuntunku pada sadar. Ya, mengerti tentang sebuah rasa yang tak semesti dilanjutkan, sikapmu terkadang begitu kejam,begitu abstrak yang juga samar, dikejauhan kau adalah lirih bagiku yang setiap saat selalu hadir dikala hening, dan kali ini kau benar-benar memukulku untuk mundur, tapi sekali lagi hatiku keras kepala. Begitu mahal rasa kepedulian yang kau miliki atau begitu  miskin aku untuk menebusnya. Aku tak mengerti, bahkan waktu tahunan seakan tak mampu membawaku pada sebuah pemahaman tentangmu. Kita adalah dua orang asing meski pada kenyataan saling berhubung; Aku lelah untukmu tapi entah mengapa langkah selalu saja berhasil membawaku padamu, enggan berhenti meski kau terus berlari menjauh. Aku adalah rumah yang tak ingin kau tempati, bahkan terkesan ingin kau hancurkan. Kau dapat menghancurkan dalam sekejap, pun demikian dalam membenahi. Mungkin aku tak akan pernah hadir pada bagian menyenagkan dalam episode hidupmu melainkan hanya pada bagian nela...