Kenangan dikala itu hanyut terbuai bersama kisah yang tak bisa dinalar, lembayung senjapun seolah enggan mengakhiri hari panjang dimana seorang insan terus asik bermain bersama sang mentari tanpa pernah berpikir akan berakhir.
Semuanya berjalan secara alami mengikuti semesta yang terus bergerak. Entah aku yang terlalu berlebihan atau kau yang kurang perasa dan tak dapat memahami arti makna dari sebuah hubungan, yang mana menjadi sendu tak berkesudahan untukku sebagai seseorang yang tak pernah berpikir untuk beranjak darimu.
Kau sempat membuatku percaya bahwa malaikat tak bersayap itu nyata adanya tatkala kau berhasil menghidupkan kembali jiwa seseorang yang telah mati dan mewarnainya dengan manis canda tawamu, namun seiring berjalannya waktu kau pula lah yang membunuh jiwa itu dan mengakhiri sebuah kisah dengan hanya meninggalkan lirih yang terus terngiang disepancaran telinga dari kejauhan.
Semestaku terdiam saat kita berakhir, aku seolah berdiri diatas gamang saat semuanya usai, entah bagaimana caraku melanjutkan hidup yang telah terbisa bersamamu saat kau menjadi semangat asaku dan terus bermain bermain bersama sepanjang waktu mengikuti regulasimu.
Aku pergi, mungkin hal itulah yang paling kau inginkan saat bosan mulai melanda rasamu yang mana tanpa sadar kau mengabaikan hal yang lebih penting dari sekedar kebahagiaan sesaat. Bukan tentang keindahan semu, melainkan seseorang yang tak pernah berniat meninggalkanmu dalam keadaan apapun. Bahkan setelah itu tak tampak jalinan perubahan suatu hubungan yang tidak mempunyai nama seperti yang sempat kau katakan melainkan kita hanya bagai dua orang asing yang tidak saling sapa tanpa memikirkan rangkum kenangan yang sudah terpatri sebelumnya.
Entah seberapa besar ego yang kau pertahankan manakala jeda menghampiri, seberapa banyak harap dan angan yang kau hancurkan, dan sebuah rasa tulus yang kau siakan.
Aku benci caramu meninggikanku, aku benci caramu meninggalkanku, aku benci melihat kau bahagia tanpaku, dan yang paling ku benci adalah aku tak bisa membencimu.
Kini aku hanya terhanyut menepis realita kau bukan milikku meskipun pilu terus menghampiri rasaku, entah sampai kapan aku terus mendambamu. Namun setelah kau yang ku tahu aku hanyalah seorang yang dipaksakan keadaan meminang dua hati yang genap yang secara realita aku bukanlah menjadi bagian didalamnya.
Komentar
Posting Komentar