Angin malam berhembus, dingin menyertai langkahku meninggalkan tempat ini
tempat dimana aku mulai bermimpi
tempat dimana kau melukis tawaku
tempat dimana kau dan aku tak lagi satu
Masih teringat jelas langkah mungilmu menari dikepalaku, mengetuk palung hati yang terdalam, meninggalkan bekas tak terhapus, raga beranjak tapi hati tertinggal. aku ingin lebih lama lagi, aku ingin bertemu sejenak lalu menyampaikan kata rindu yang telah lama kupendam sendiri.
Lagi-lagi aku gagal, harus ku urungkan niat ini. Menahan rindu lebih lama lagi, membunuh setiap rasa yang kembali mencoba hadir. Aku telah mati untuk raga yang masih bernyawa, setengahku telah kau bawa pergi bersama kenangan. Aku pergi tapi justru aku yang merasa ditinggalkan, hingga untuk menatapmu saja aku tak lagi memiliki keberanian.
Andai memiliki kesempatan, aku ingin memelukmu erat sebelum beranjak pergi meninggalkan kota ini, aku akan berbagi banyak cerita denganmu tentang caraku menjalani hidup tanpamu, andai.
Terimakasih pernah hadir dalam hidupku, pernah singgah meski tak penah sungguh, aku akan mengingat setiap bagian dari cerita kita, kenangan kita akan menuntunku berproses dan mencari jati diri hingga membawa kaki ini lebih jauh lagi dalam melangkah, perjalanan terhebat yang bermula darimu dan cerita panjang untuk kugoreskan pada lembaran kertas kosong.
"Revitalisasi aksara" hadirmu yang tak lagi ada, kugantikan bait aksara pelipur lara.
Percayalah, aku akan terus menjadi orang yang sama untukmu. Meski kau tak pernah mengharap tapi izinkan aku tetap berharap dengan caraku sendiri, saat ini pikiranku sedang egois, ia tak ingin lagi mengalah dengan perasaanku seperti sedia kala. Biarkan hati ini hancur, kelak ia akan mengerti bahwa pikiran hanya menginginkan yang terbaik untuknya.
Aku ingin berbalas tanpa alasan, seperti hujan yang turun membasahi bumi, memberikan kejernihan tanpa peduli alam sedang dirusak. Berbahagialah, kita adalah dua kutub yang berbeda dan tak memiliki kesamaan, aneh rasanya jika aku terus memaksakan kehendak. Mungkin tidak sekarang, masih banyak proses yang harus kulalui, masih banyak yang perlu kuperbaiki pada diri ini, perlu terbentur untuk terbentuk.
Memulai lembaran baru dengan menyisakan satu lembaran kosong yang tak boleh siapapun mengisinya, itu hanya untukmu, terserah kau mau mengisinya ataupun tidak, akan tetap sama untukku. Hujan, malam, dan senja akan menjadi bagian terfavoritku. Mengasingkan diri ini bukan suatu masalah besar bagiku, karena sepi dan keheningan terkadang lebih bisa mengerti dari daripada keramaian.
Jaga dirimu, aku akan merindukanmu, aku pergi.
"Segala ceritaku adalah kita, segala rasaku adalah engkau"
tempat dimana aku mulai bermimpi
tempat dimana kau melukis tawaku
tempat dimana kau dan aku tak lagi satu
Masih teringat jelas langkah mungilmu menari dikepalaku, mengetuk palung hati yang terdalam, meninggalkan bekas tak terhapus, raga beranjak tapi hati tertinggal. aku ingin lebih lama lagi, aku ingin bertemu sejenak lalu menyampaikan kata rindu yang telah lama kupendam sendiri.
Lagi-lagi aku gagal, harus ku urungkan niat ini. Menahan rindu lebih lama lagi, membunuh setiap rasa yang kembali mencoba hadir. Aku telah mati untuk raga yang masih bernyawa, setengahku telah kau bawa pergi bersama kenangan. Aku pergi tapi justru aku yang merasa ditinggalkan, hingga untuk menatapmu saja aku tak lagi memiliki keberanian.
Andai memiliki kesempatan, aku ingin memelukmu erat sebelum beranjak pergi meninggalkan kota ini, aku akan berbagi banyak cerita denganmu tentang caraku menjalani hidup tanpamu, andai.
Terimakasih pernah hadir dalam hidupku, pernah singgah meski tak penah sungguh, aku akan mengingat setiap bagian dari cerita kita, kenangan kita akan menuntunku berproses dan mencari jati diri hingga membawa kaki ini lebih jauh lagi dalam melangkah, perjalanan terhebat yang bermula darimu dan cerita panjang untuk kugoreskan pada lembaran kertas kosong.
"Revitalisasi aksara" hadirmu yang tak lagi ada, kugantikan bait aksara pelipur lara.
Percayalah, aku akan terus menjadi orang yang sama untukmu. Meski kau tak pernah mengharap tapi izinkan aku tetap berharap dengan caraku sendiri, saat ini pikiranku sedang egois, ia tak ingin lagi mengalah dengan perasaanku seperti sedia kala. Biarkan hati ini hancur, kelak ia akan mengerti bahwa pikiran hanya menginginkan yang terbaik untuknya.
Aku ingin berbalas tanpa alasan, seperti hujan yang turun membasahi bumi, memberikan kejernihan tanpa peduli alam sedang dirusak. Berbahagialah, kita adalah dua kutub yang berbeda dan tak memiliki kesamaan, aneh rasanya jika aku terus memaksakan kehendak. Mungkin tidak sekarang, masih banyak proses yang harus kulalui, masih banyak yang perlu kuperbaiki pada diri ini, perlu terbentur untuk terbentuk.
Memulai lembaran baru dengan menyisakan satu lembaran kosong yang tak boleh siapapun mengisinya, itu hanya untukmu, terserah kau mau mengisinya ataupun tidak, akan tetap sama untukku. Hujan, malam, dan senja akan menjadi bagian terfavoritku. Mengasingkan diri ini bukan suatu masalah besar bagiku, karena sepi dan keheningan terkadang lebih bisa mengerti dari daripada keramaian.
Jaga dirimu, aku akan merindukanmu, aku pergi.
"Segala ceritaku adalah kita, segala rasaku adalah engkau"
Komentar
Posting Komentar